Rabu, 11 April 2012

motivasi diri


Video yang memotivasi diri ...
ada kalanya kita harus bangga tentang segala yang ada dalam diri kita
kekurangan ataupun kelebihan
jangan pernah takut untuk jadi diri sendiri
dan takutlah ketika kamu tidak mampu menghargai diri kamu sendiri...
keep spirit and smile always,,,,,,,,

Rabu, 04 April 2012

GANGGUAN PADA ANAK



KEGAGAPAN
          Proses belajar berbicara hampir sama dengan proses berjalan, kedua proses tersebut dalam tingkatan kecepatan mereka masing-masing, sebagian anak akan berjalan dengan tegap melintasi ruang santai kedalam pelukan papa atau mama nya tanpa hambatan, dan sebagian akan jatuh menangis pada langkah ketiga. Demikian pula, ada sebagian anak yang mampu berceloteh dengan lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan anak-anak lain yang terlihat sangat kesulitan dalam merangkai dan mengartikulasikan bunyi asing yang disebut dengan kata. GAGAP merupakan cacat pada kefasihan berbicara yang ditandai dengan pengulangan bunyi konsonan dan vokal dan atau perpanjangan suku kata merupakan  hal yang umum dari perjuangan tersebut.
          Terkadang pembicaraan seorang anak yang gagap benar-benar akan terhambat, pada saat-saat lain ada keraguan yang ringan dan menengah. Sebagian besar kegagapan mulai muncul diawal masa kanak-kanak dan akan memuncak di sekitar usia tiga sampai empat serengah tahun. Lebih dari 99% anak-anak tak lagi gagap saat mereka menginjak usia remaja. Ada banyak teori apa penyebab kegagapan, ada yang beranggapan hal tersebut merupakan sebuah gangguan neurotik, ada juga yang melihatnya sebagai dampak dari konflik keluarga. Tetapi beberapa penelitian terkini sepertinya menunjukan bahwa akar permasalahan tersebut bisa jadi biologis.

Anak-anak yang kesulitan berbicara
          Janey yang berusia sembilan tahun sesungguhnya tidak memiliki masalah apa-apa ketika harus berbicara dengan orangtua dan kakak-adiknya dirumah, namun setiap ia melangakahkan kaki keluar rumah, ia akan segera menjadi anak yang sangat pendiam, serta merta menjadi bisu. Ini apa yang dilakukan nya disebut dengan kebisuan selektif. Anak-anak tersebut bisa jadi akan menolak berbicara dengan siapapun diluar rumah atau saat disekolah, atau menolak berbicara kepada orang dewasa selain orang tuanya.
Kebisuan selektif pada anak-anak serta sejarah menyeluruh yang didapatkan dari orangtua mereka biasanya menunjukan bahwa meraka selalu bersikap segan, malu-malu, serta menarik diri dan cenderung akan mengisolasi diri dari interaksi sosial apapun. Sebagian akan sangat tergantung pada ibunya, sebagian akan mengalai ketakutan-ketakutan irrasional(fobia). Secara keseluruhan, anak-anak yang mengalami masalah kebisuan selektif akan terlihat sedikit terbelakang secara sosial atau kurang dewasa dibandingkan teman-teman sebayanya. Bahkan banyak diantara mereka yang mengalami masalah mengompol dan buang air besar dicelana.Kebisuan mereka biasanya mulai secara perlahan-lahan dan kemudian akan semakin membesar, ada beberapa kasus yang jarang dimana kebisuan berkembang secara dramatis dan kalaupun hal ini yang terjadi biasanya alasan mendasari hal tersebut merupakan alasan yang sangat kuat, sebuah keadaan penuh strees yang tiba-tiba misalnya pelecehan seksual atau kekerasan fisik, kematian teman dekat atau anggota keluarga ataupun perpisahan secara paksa dengan orang yang disayangi nya.
Yang harus anda lakukan
Orang tua yang memiliki anak yang mengalami kebisuan selektif diluar rumah adalah berhenti mencari sumber masalah maupun solusi di luar rumah mereka sendiri. Hampir semua gejala dramtis ini harus diperlakukan sebagai sebuah tanda bahwa anda harus menelidiki pola jaln dalam keluarga anda sendiri, dengan memberikan perhatian khusus pada pola relasi anak anda dengan seluruh anggota keluarga
Sebagian besar anak yang mengalami kebisuan selektif akan membaik pada saat mereka menginjak usia sepuluh tahun, jika masalah ini masih berlangsung lebih lama dari batasan usia tersebut, maka masalah yang ada bisa jadi akan jatuh jauh lebih serius.
Bebrapa perawatan yang disarankan dan terbukti memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi adalah :
·        Psikoterapi individual
·        Psikoterapi keluarga
·        Terapi bicara bagi beberapa anak yang juga memiliki gangguan bicara
·        Medikasi antidepressant


Ganguan Bahasa

           Bahasa jelas sekali telah mempersatukan orangtua dan anak dalam sebuah cara baru yang meriangkan, bayi seolah-olah berubah menjadi “manusia sejati” saat mereka beusaha berbicara, fakta bahwa kekawatiran sedemikian hampir selalu tidak beralasan, meskipun perkembangan bahasa pada anak-anak (sebagaimana keterampilan-keterampialan fundamental yang lain) memiliki beberapa karakteristik tertentu secara umum berlaku pada hampir semua anak usia dan interval yang hampir sama, perkembangan ini juga merupakan sebuah proses yang unik yang berlangsung pada masing-masing individu.
          Kita belum sepenuhnya mengetahui semua variabel yang menunjukan perbedaan-perbedaan individual dalamn perkembangan bahasa, namun setidaknya kita sudah mengetahuinnya bahwa lingkungan verbal dan non-verbal awal bagi sang anak memiliki peran yang sangat penting, sebagiamana anak-anak yang diajak berbicara dan menikmati lingkungan fisik dan emosional yang sehat akan cenderung akan berkembang secara verbal dalam kecepatan optimal dan kemungkinan anak akan tumbuh dengan kemampuan berbicara yang lebih cepat dan lebih fasih.
Perlu kita ingat bahwa sebagian besar masalah atau hambatan yang tercantum dalam jadwal berikut secara umum akan membaik dengan sendirinya.
·        Sebagian besar bayi akan mulai tersenyum saat ia menginjak usia dua atau tiga bulan, ketawa kecil pada usia tiga setengah bulan, merespon suara pada usia lima bulan dan mengoceh saat ia menginjak usia enam bulan.
·        Pada saat ia menginjak sepuluh atau duabelas bulan, anak-anak mulai mengenal beberpa patah kata dan jumlah ini akan berkembang menjadi ribuan kata pada usia tiga setengah hingga lima tahun.
·        Pada usia dua tahun, sebagian besar anak sudah mampu merangkai kalimat yang terdiri dari dua patah kata dan pada saat ulang tahun ketiga berkembang hingga tiga patah kata.
·        Pada saat usia empat tahun anak-anak akan mampu menggunakan beraneka bentuk kalimat.
·        Pada usia lima tahun 95 % anak-anak akan mengalami sedikit masalah atau tidak sma sekali menyangkut pemahaman dan ekspresi bahasa.

Cara mengenali masalah
Perhatikan daftar tanda-tanda peringatan umum berikut :
·        Sang anak hanya mampu mengahapal jumlah kata sangat sedikit pada saat ia beusia delapanbelas atau sembilanbelas bulan.
·        Sang anak sepertinya tidak memiliki pemahaman apapun terhadap bahasa verbal pada saat ia menginjak usia delapanbelas tahun.
·        Sang anak akan memiliki hambatan atau masalah bahasa yang tidak bisa misalnya, secara kronis menggunakan struktur bahasa atau kata ganti yang aneh, usaha konsisten dalam kata keliru yang masih berlangsung setelah berusia delapanbelas tahun
·        Sang anak tidak bisa menunjikan bagian tubuh yang ditanyakan pada nya saat ia sudah berusia duabelas bulan
·        Sang anak tidak bisa merangkai kata saat ia beranjak usia dua setangah tahun
·        Anak akan mengalami masalah artikulasi saat beranjak usia emapat setengah tahun
Dalam merespon tanda-tanda tersebut diatas seorang ahli bisanya terlebih dahulu akan mengenali sebab-sebab biologis fatal, dan jarang sekali terjadi yang bisa mengganggu perkembangan bahasa, misal ketulian bawaan sejak lahir, infeksi kronis yang menyebabkan ketulian sementara, ketulian persial atau justru ketulian total,cacat otak bawaan sejak lahir dan masalah neurologis yang diwarisi.



Gangguan Artikulasi
          gangguan artikulasi jelas sekali merupakan penyebab masalah komunikasi yang paling umum terjadi pada anak-anak, hingga 20% anak-anak pada pra-sekolah mengalami beberapa kesulitan dalam artikulasi. Gangguan ini secara resmi digambarkan sebagia sebuah kegeglan dalam menghasilkan bunyi ucapan yang sesuai, sebagian anak yang mengalami gangguan artikulasi ini akan menggantikan sebuah bunyi huruf dengan huruf lain( contoh : melafalkan s dengan c), sementara anak lain akan membuang salah satu suku kata, menghentikan suku kata atau bahkan sama sekali menghentikan bunyi dari sebuah kata.
          Sebagian besar anak-anak yang mengidap gangguan ini biasanya baru akan diketahui pada saat mereka menginjak usia 4 tahun, karena pada saat usia ini anak-anak sudah bisa berbicara dengan cukup fasih, tetapi diagnosa tesebut bisa dilakukan lebih dini jika memang ganguan tersebut sangatlah parah. Gangguan ini sering kali dan hampir selalu muncul bersama dengan gangguan bahasa, tapi jarang sekali gangguan ini muncul secara sendiri-sendiri.sering kali sulit bagi kita membedakan sebuah gangguan bahasa dengan sebuah gangguan artikulasi untuk melakukan sebuah diagnosa dan menyarankan perawatan yang tepat, dibutuhkan usaha seorang ahli dalam bidang ini sendiri.


MENGOMPOL
          Hampir tidak ada anak yang bisa melalui masa ini tanapa setidaknya sebentuk penolakan, kecemasan atau kemarahan, meskipun pada usia 3 tahun mereka mau tak mau harus belajar bagaimana cara menggunakan toilet, untungnya lebih dari 90% anak akan mampu mengontrol sistem buang air kecil pada saat sudah menginjak usia 5 tahun.
          Ada dua buah kategori tukang ngompol, pertama, mengompol yang ditujukan oleh anak yang memang masih belum mampu mengontrol kandung kemihnya pada saat ia sudah menginjak usia 5 tahun. Kedua, berhubungan dengan anak yang sudah pernah belajar latihan buang air pada saat usia tiga atau empat tahun, namun mulai mengompol ditempat tidur atau dicelana antara usia empat sampai delapan tahun.
          Meskipun kita belum sepenuhnya mengetahui seluruh penyebab terjadinya mengompol, setidaknya kita kita sudah memahami bahwa anak-anak yang mengompol kategori kedua seringkali membasahi tempat tidur atau celananya atau mengompol dimalam hari, tejadi jauh lebih umum terjadi dibandingkan dengan mengompol dicelana yang juga dikenal dengan diural eneuresis. Akiabat dari strees terkadang disebabkan oleh sebentuk trauma semisal kelahiran seorang adik, terkadang oleh pelecehan seksual, terkadang lagi akibat dari trauma fisik semisal sedera kepala, kecenderungan mengompol bisa jadi merupakan masalah yang diwariskan. Jarang sekali ditemukan kasus dimana penyebabnya adalah masalah biologis, misalnya kandung kemih yang tak mampu menampung jumlah urine yang normal, cacat halus di otot dinding kantung kemih, dan kemungkinan beberapa variasi dalam apa yang disebut circadian rhythms ( perubahan jasmaniah pada waktu-waktu tertentu pada siang atau malam hari.Mengompol biasanya akan membuat orangtua dan anak menjadi sama-sama jengkel, marah mereka beranggapan anak meraka mengompol dengan sengaja.

Buang air besar di celana
          Ada dua kategori encopresis atau buang air besar celana secara klinis digambarkan sebagai perilaku berulang membuang kotoran yang tidak pada tempatnya, dan tempat yang paling umum adalah celana, 1). Buang air besar di celana yang dilakukan  oleh anak-anak yang memang belum memiliki kontrol pada pergerakan usus besarnya, dan 2).  Encopresis pada \anak-anak yang sudah pernah memiliki kemampuan untuk mengontrol usus besar dan isi perutnya, namun kemuadian ia kehilangan kemampuan tersebut.
          Hingga pada usia kira-kira empat tahun kecelakaan buang air besar di celana akan terjadi pada hampir semua anak, pada kenyataannya ada banyak anak yang berusia empat tahun yang tetap mengalami kecelakaan ini dan ia tetap belim bisa didiagnosa mengidap encopresis,  hingga ia mengalami setridaknya ia mengalami satu kali buang air besar di celana dalam satu bulan, selama kurun waktu 3 bulan berturut-turut.
          Sebagian anak-anak yang mengidap encopresis merasa malu atas hal tersebut, dan mereka sering kali menyembunyikan celana mereka, dan mereka memiliki bau yang tak enak. Sehingga sering mereka diejek-ejek oelh teman mereka disekolah dan memanggilnya denagn julukan yang tidak menyenangkan.
          Kita belum sepenuhnya mengetahui alasan dari kemunculan encopresis,  terkadang dihubungkan dengan kelainan fisik dari otot-otot disekitar dubur, meskipun kelainan-kelainan ini memang bisa menyebabkan encopresis namun kelainan-kelainan tersebut bisa merupakan sebuah gejala dari yang bekepanjangan.
          Ada juga kesan bahwa buang air besar di celana berhubungan kuat dengan stress, dalam keadaan stress kronis cenderung lebih rentan terkena encopresis. Ada beberapa teori tentang penyebab encopresis mulai dari konflik keluarga, latihan buang air besar susah, dan berbagai gangguan dari masalah keluarga lainnya,(pengabaian, pelecehan, kekerasan, peceraian, pertikaiana antar saudaradan alain sebagainya. Dan anak yang mengidap encopresis besikap menentang dan agresif.





 Gangguan Psikosomatik
Gangguan psikosomatik memiliki sejarah yang panjang selama lebih dari seratus tahun belakangan telah kita temukan berbagai catatan dan laporan tentang pasien dengan gejala fisik yang tidak bisa dijelaskan, diagnosa umum bagi keluhan-keluhan adalah “hysteria” keadaan yang paling sering ingin disembuhkan oleh Frued saat dia memulai prakteknya. Rasa sakit psikosomatik sedemikain dianggap sebagai ekspresi jasmaniah dari masalah emosional yang mendasarinya merupakan ingatan-ingatan yang menyakitkan, berbagai konflik bawah dasar, terkadang pelecehan seksual.
Penderita emosional dengan gangguan somatoform, dengan dua kategori yang sering kita lihat pada anak-anak. Pertama, adalah gangguan konversi, kekurangan akan fungsi-fungsi motorik atau inderawiah yang seringkali menyerupai keadaan-keadaan neurologis atau oleh stress.
Dalam kasus-kasus yang jarang terjadi, anak-anak yang mengalami gangguan ini bahkan benar-benar akan merasa tidak mampu bangkit tempat duduk mereka, namun tampaknya pengaruh gangguan ini seringkali muncul diarea abdominal atau perut, gejala ini yang sangat umum terjadi sehingga seringkali dianggap terpisah dari gangguan itu sendiri. Demikian anak-anak yang mengalami rasa sakit di abdominal mungkin akan mengeluhkan gejala-gejalanya diantaranya, pusing, pingsan, dan perasaan yang paling umum kurang sehat, termasuk mual-mual, muntah-muntah, dan gangguan usus.
Kedua, gangguan dari psikosomatik adalah gangguan somatisasi, terjadi pada remaja gangguan ini jarang sekali terjadi pada anak-anak, gangguan ini melibatkan keluhan jasmaniah yang kronis dan beragam. Berbeda dengan gangguan konversi, gangguan soamatisasi bersifat jangka panjang, cenderung untuk kambuh dan meiliki banyak sekali gejala.
Sejak masa Frued menjelaskan bahwa anak-anak dengan gangguan psikosomatik berupa gangguan konveksi, pada masa pra-remaja mengalami penderitaan akibat dari stress emosional yang tidak mampu mereka ekspressikan secara langsung,stress ini bsa ditimbulkan oleh peristiwa-peristiwa sspesifik, semisal kematian anggota keluarga, kekerasan fisik atau pelecehan seksual, kondisi ruamah tangga yang kacau, konflik dengan orangtua atau saudara kandung.
Kita belum sepenuhnya tahu kenapa seorang anak mengalami gangguan psikosomatik dan sebagian yang lain tidak, meskipum tampaknya ada kecenderungan genetik, trauma dan kekerasan serta pelecehan cenderung akan meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan konveksi, dan sebagian anak tertentu benar-benar mengalami kesulitan dalam mengekspresikan stress emosionalnya secara langsung.



Anak yang mengidap penyakit fisik

bagi anak-anak yang mengalami penyakit fisik kronis mulai dari demam biasa atau diabetes hingga penyakit otot atau kanker, kehidupan mereka mungkin merupakan keadaan sangat menyedihkan dan menghilangkan semangat. Penyakit kronis akan membuat anak-anak menjadi sangat ketakutan dan mudah marah. Akivitas-aktivitas mereka sangat terbatas, kesempatan mereka untuk menikmati interaksi sosial yang normal terkurangi, dan anak yang sakit sangat mungkin merasa ngeri tak berdaya terhadap pungsi-pungsi jasmaniah dan kemungkinan fatal dari penyakit yang mereka derita.
Pemahaman anak-anak terhadap penyakit kronis yang mereka derita sangat bervariasi sesuai dengan tingkat kecerdasan mereka. Semakin muda dan belum dewasanya seorang anak, maka akan semakin rentan pula ia untuk menganggap penyakitnya sebagai hukuman atas pikiran-pikiran, harapan-harapan atau perilaku-perilaku tabu mereka. Sementara ini anak-anak yang lebih dewasa cenderung akan menggantikan kecemasan mereka menyangkut kesehatan dan ketidakberdayaan mereka dengan berbagai prosedur medis dan aspek konkrit dari penyakit yang mereka derita, tersedot dalam detail tentang detail obat-obatan dan berbagai perawatan yang harus mereka jalani.cara bagi mereka untuk menggolong-golongkan atau melepaskan kecemasan mereka terhadap perawatan-perawatan dan operasi-operasi baru dimana mereka sangat mungkin akan menjadi subyeknya, yang benar-benar akan menimbulkan ketakutan dan kecemasan yang luar biasa dalam diri mereka.
Gangguan saraf bawah sadar (termasuk sindrom tourette)
Gejala gangguan saraf bawah sadar ialah gerakan atau gestur dan terkadang disertai lenguhan kata-kata atau suara yang muncul secara cepat, tiba-tiba, berulang namun biasanya tanpa irama, merupakan sebuah hala yang sangat mengganggu, baik bagi anak-anak yang mengidapnya, maupun bagi orang lain yang disekeliling pendertanya.
Gejala-gejala ini sering terjadi akibat sebagai sebuah bukti, keberadaan penyakit mental atau bahkan kegilaan. Sebagian ahli terapi dan kesehatan mental masih menyakini pendapat tersebut dan anak malang yang secara kebetulan menunjukan gangguan ini secara dipaksa untuk seolah-olah dia terbelakangan mental atau gangguan secara emosional.
Gangguan saraf bawah bisa muncul dalam bentuk yang sanagat bervariasi, bisa terwujud mulai dari kedipan mata, sentakan kepala, dan bahu yang terangkat secara cepat hingga ketegangan otot abdominal, juluran lidah, ekspresi wajah yang aneh, dan gestur-gestur tangan, lengan dan kaki, terkadang dalam gerakan-gerakan yang cabul (copropraxia). Gangguan saraf yang berhubungan dengan suara bervariasi mulai dari bentuk yang sederhana.
Anak-anak yang menderita akibat dari gangguan saraf ini juga akan mengalami penderitaan dari rasa takut, kesalahpahaman, dan sikap kasar orang lain, bukan hanya dari anak-anak lain, namun juga terkadang dari anggota keluarga serta para guru. Rasa frustasi dan kecemasan anggota keluaraga hanya akan meningkatkan rasa ketidak-sukaan sang anak terhadap dirinya sendiri.
Gangguan saraf bawah sadar telah dipelajari secara mendetail karena sifat dramatisnya dan diagnosanya yang mudah, diketahui secara umum bahwa gangguan saraf bawah sadar memiliki sebuah basis genetik. Meskipun saat ini kita sudah mengetahui bahwa gangguan saraf ini bukanlah gejala dari neurosis, namun gangguan ini bisa memburuk akibat stress, berita baiknya adalah hampir semua anak yang mengalami gangguan ini 70-90% akan pulih dari awal masa remaja mereka.

Gangguan pola makan
Anak-anak yang didiagnosa dengan obesitas jika mereka memiliki berat badan yang seperlima lebih berat dari berat badan ideal bagi usia dan tinggi badan mereka, meskipun sebagian besar orang mengkambing hitamkan masalah hormon atas obesitas ini, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa kelebihan berat badan biasanya berkembang dari sebuah sebab yang jelas, terlalu banyak makan. Obesitas memiliki kecenderungan untuk terjadi pada setiap keluarga dan meskipun ada kemungkinan genetik terhadap kemunculannya, masalh ini juga secara umum dipengaruhi oleh masalah-masalah dalam keluarga, anak yang mengalami kecemasan dan mengalami pola hidup rumah tangga yang kacau atau tidak teratur seringkali akan sering terkena masalah kegemukan, terutama pada anggota keluarga yang mengalami obesitas. Obesitas juga terjadi pada keluarga yang serba kekurangan, sama seperti pada berbagai gejala-gejala psikologis lainnya, obesitas juga melahirkan masalah emosional sekunder, menurunkan rasa percaya diri, lebih memungkinkan depresi dan isolasi. Sementara komplikasi medis dari obesitas adalah diabetes, kolesterol yang tinggi, masalah-masalah tidur, serta masalah umum dalam penyesuaian diri, dalam lingkungan sosial dan sekolah.
Lawan dari obesitas adalah anokreksia, yang hingga saat ini belum pernah dibahas dibuku-buku  tentang anak-anak pra-remaja, anoreksia ( pengurangan makanan secara sengaja oleh seseorang) memang masih jauh umum ketimbang pada anak-anak. Sebaliknya anoreksia pada anak-anak muncul dalam bentuk tidak tercapainya berat badan yang idealnya,serta pertumbuhan yang lamban.
Gangguan-gangguan pola makn berikut memang sedikit lebih jarang terjadi namun demikian berbahaya. Gangguan pola makan menghambat dalam hubungan mereka dengan pengasuhnya, gangguan ikatan, secara khusus, seringkali mengimplikasikan gangguan ini.
Pica secara remsi didefinisikan sebagai kebiasaan memakan bahan-bahan non-nutrisi yang terus menurus, adalah sebuah gangguan yang telah menarik perhatian masyarakat Amerika, karena seorang anak mengalami keracunan timah akibat memakan cat. Dan juga gangguan ini akan memakan zat lain, misalnya potongan kertas, kotoran, tanah, kayu, kertas, rambut dan sedotan plastik. Tak heran gangguan ini bisa keracuanan hingga kerusakan usus.
Sindrom failure-to-thrive (kegagalan untuk tumbuh) ditandai dengan perlambatan dalam meraih berat badan, pertumbuhan fisik, tinggi badan, serta lingkar kepala, yang disertai dengan gangguan dan perlambatan dalam perkembangan emosional dan sosial, yang disebabka oleh kurang yang asupan kalori.
Gangguan rumination (memamah-biak) kebiasaan untuk memuntahkan makanan dan mengunyahnya kembali, jauh lebih jarang dari sindrom gagal-tumbuh, gangguan ini berakar pada gangguan ikatan dengan pengasuh, dan sebagai sebuah respon terhadap pengabaian, umu terjadi pada anak kecil, dibawah usia 3 tahun, komplikasi medis  dari gangguan ini dari infeksi paru-paru, akibat dari kandung udara yang ada dalam makanan yang dimuntahnya,hingga malnutrisi atau kekurangan gizi, serta pertumbuhan terlambat, dan bisa berujung kematian.

About guidance and counseling


Pengertian Bimbingan dan Konseling

1. Definisi Bimbingan

Dalam mendefinisikan istilah bimbingan, para ahli bidang bimbingan dan konseling memberikan pengertian yang berbeda-beda. Meskipun demikian, pengertian yang mereka sajikan memiliki satu kesamaan arti bahwa bimbingan merupakan suatu proses pemberian bantuan.
Menurut Abu Ahmadi (1991: 1), bahwa bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu (peserta didik) agar dengan potensi yang dimiliki mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa depan yang lebih baik. Hal senada juga dikemukakan oleh Prayitno dan Erman Amti (2004: 99), Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, atau orang dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Sementara Bimo Walgito (2004: 4-5), mendefinisikan bahwa bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya, agar individu dapat mencapai kesejahteraan dalam kehidupannya. Chiskolm dalam McDaniel, dalam Prayitno dan Erman Amti (1994: 94), mengungkapkan bahwa bimbingan diadakan dalam rangka membantu setiap individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri.

2. Definisi Konseling

Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antarab dua orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang. (Tolbert, dalam Prayitno 2004 : 101).
Jones (Insano, 2004 : 11) menyebutkan bahwa konseling merupakan suatu hubungan profesional antara seorang konselor yang terlatih dengan klien. Hubungan ini biasanya bersifat individual atau seorang-seorang, meskipun kadang-kadang melibatkan lebih dari dua orang dan dirancang untuk membantu klien memahami dan memperjelas pandangan terhadap ruang lingkup hidupnya, sehingga dapat membuat pilihan yang bermakna bagi dirinya.




Fungsi,Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling

Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah:
Fungsi, Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling
§  Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.
§  Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.
§  Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, diantaranya : bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, drop out, dan pergaulan bebas (free sex)
§  Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamworkberkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming),home room, dan karyawisata.
§  Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.
§  Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.
§  Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
§  Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
§  Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.
§  Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.
§  Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli
Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan, baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. Prinsip-prinsip itu adalah:
1.       Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif); dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual).
2.      Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli, meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok.
3.      Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut, bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang.
4.      Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Mereka bekerja sebagai teamwork.
5.      Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli, yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya, dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan.
6.      Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan, dan pekerjaan.
Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut.
1.       Asas Kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin.
2.      Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.
3.      Asas keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Agar konseli dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.
4.      Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.
5.      Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli.
6.      Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.
7.      Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.
8.     Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadu. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
9.      Asas Keharmonisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai dan norma tersebut.
10.  Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.
11.   Asas Alih Tangan Kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain ; dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain.